keangkuhan mimpi, kesombongan janji
Berawal dari seutas mimpi
hingga terucap pada seikat janji
yang mungkin kita tidak akan mengerti
apa yang akan terjadi nanti
mimpi yang kini menjadi nyata
janji yang seakan saksi realita
mengurung rasa dalam jeruji logika
kita terlalu angkuh untuk munyelamatkan....
kita juga terlalu sombong untuk menyadarkan
apa kita lupa? bahwa kita yang terselamatkan,
apa kita sadar? bahwa kita yang tersadarkan.
semuanya hancur,
hancur,,, takterbenahi,,,
semuanya gundah,
gundah tak terbujuk,,,,
hanya rangkulan_Nya yang mampu menenangkan,dan
hanya kalimat_Nya yang bias mendamaikan.
#Edi _Noor AMR
Rabu, 05 Agustus 2015
Jumat, 31 Juli 2015
bukan alasan
BUKAN ALASAN
teertunduk malu palingkan wajah
tergusur sunyi berlumur sepi
bisikan kelam terusik lirih
berantai maaf perpanggul khilaf
ruhnya memucat,
menyeret beban tanpa bekas
jiwanya menyuram,
tertutup noda tiada terlihat
tangis bukan jawaban,
merintih bukan alasan,
gusar hanya berujung sesal,
tersungkur sujud puncak ilahi.
teertunduk malu palingkan wajah
tergusur sunyi berlumur sepi
bisikan kelam terusik lirih
berantai maaf perpanggul khilaf
ruhnya memucat,
menyeret beban tanpa bekas
jiwanya menyuram,
tertutup noda tiada terlihat
tangis bukan jawaban,
merintih bukan alasan,
gusar hanya berujung sesal,
tersungkur sujud puncak ilahi.
Senin, 27 Juli 2015
PUISI KU
PECUNDANG BUKAN PEMENANG
Gemuruh Langit Kian Menghujat,
bak siluman merayu murka.
para tawanan keindahan semakin menenang,
bak rimba terhiasi mawar.
deburan ombak hempaskan lautan,
bak pecundang rajai zaman
para pengharap berikhtiar wujudkan mimpi,
bak lasakar perjuangkan tahta .
hancur bahkan melebur,
terseret gelombang masa
bising namun terdiam,
keindahannya kini menawan
hanya henbusan nafas pemenang yang terhelakan,
bukan teriakan para pecundang.
Gemuruh Langit Kian Menghujat,
bak siluman merayu murka.
para tawanan keindahan semakin menenang,
bak rimba terhiasi mawar.
deburan ombak hempaskan lautan,
bak pecundang rajai zaman
para pengharap berikhtiar wujudkan mimpi,
bak lasakar perjuangkan tahta .
hancur bahkan melebur,
terseret gelombang masa
bising namun terdiam,
keindahannya kini menawan
hanya henbusan nafas pemenang yang terhelakan,
bukan teriakan para pecundang.
Rabu, 22 Juli 2015
puisi islami
kata mampu bercerita
Angin masih saja tak terlihat,
tapi masih saja ia menyejukkan....
Rasa masih saja tak terdengar,
tapi masih saja ia bernada...
Cinta_Nya selalu saja ditunjukan,
tapi masih belum saja ia tersadar...
Hingga kata tak menyadari
bahwa yang terjadi adalah yang terbaik untuk cerita....
Iya... memang tak terlihat juga tak terdengar,
tapi kata mampu bercerita.
Angin masih saja tak terlihat,
tapi masih saja ia menyejukkan....
Rasa masih saja tak terdengar,
tapi masih saja ia bernada...
Cinta_Nya selalu saja ditunjukan,
tapi masih belum saja ia tersadar...
Hingga kata tak menyadari
bahwa yang terjadi adalah yang terbaik untuk cerita....
Iya... memang tak terlihat juga tak terdengar,
tapi kata mampu bercerita.
PUISI KEHIDUPAN ISLAMI
Irama Kehidupan
ukiran langkah kehidupan kian melukiskan TAKDIR
nada sentuhan asa bahkan menciptakan IRAMA
Namun,,,
tetapsaja tak selembut KESABARAN,
tak semerdu KEIKHLASAN, dan
tak seindah KEJUJURAN.
hingga TAKDIR pun BERIMA...
ukiran langkah kehidupan kian melukiskan TAKDIR
nada sentuhan asa bahkan menciptakan IRAMA
Namun,,,
tetapsaja tak selembut KESABARAN,
tak semerdu KEIKHLASAN, dan
tak seindah KEJUJURAN.
hingga TAKDIR pun BERIMA...
PUISI PEMBANGUN JIWA (ISALMI)
Genggaman yang merapuh
Genggamannya kini merapuh
hingga terlepas dari genggapan kesetiaan
tiupannya kini beringas
melumpuhkan hingga terkapar
Genggamannya kini merapuh
hingga terlepas dari genggapan kesetiaan
tiupannya kini beringas
melumpuhkan hingga terkapar
Langganan:
Komentar (Atom)


